Baggy Jeans adalah jenis celana denim yang memiliki potongan sangat longgar mulai dari pinggang hingga pergelangan kaki. Low-Rise Pants adalah celana yang garis pinggangnya jatuh tepat di atas tulang panggul atau bahkan lebih rendah, jauh di bawah pusar.

Revolusi Denim: Mengapa Baggy Jeans dan Low-Rise Pants Kembali Menguasai Dunia Fashion?
Oleh: MELEDAK77
Pada Tanggal: 08/01/2026
Dunia fashion seringkali dianggap sebagai sebuah lingkaran yang berulang. Apa yang dianggap kuno sepuluh tahun lalu, tiba-tiba menjadi simbol paling keren di masa kini. Saat ini, kita sedang menyaksikan salah satu pergeseran tren paling signifikan dalam dua dekade terakhir: matinya era skinny jeans dan lahirnya kembali kejayaan Baggy Jeans serta Low-Rise Pants.
Tren ini bukan sekadar perubahan potongan kain; ini adalah pernyataan budaya, pemberontakan terhadap standar kecantikan dekade sebelumnya, dan perayaan estetika Y2K (Year 2000) yang didorong oleh generasi Z.
1. Akar Sejarah: Dari Jalanan hingga Panggung Runway
Untuk memahami mengapa celana longgar dan pinggang rendah kembali tren, kita harus menengok ke belakang.
Era Baggy: Simbol Perlawanan dan Hip-Hop
Baggy jeans memiliki akar yang kuat dalam budaya hip-hop tahun 1990-an. Awalnya, gaya ini muncul di komunitas kulit hitam di Amerika Serikat. Ada teori yang menyebutkan bahwa gaya ini terinspirasi dari pakaian penjara di mana narapidana tidak diizinkan memakai ikat pinggang, menyebabkan celana mereka melorot. Namun, bagi komunitas skateboard dan hip-hop, baggy jeans adalah tentang kebebasan bergerak dan kenyamanan saat melakukan trik atau menari. Merek-merek seperti JNCO, FUBU, dan Karl Kani menjadi pionir yang membawa volume kain ke tingkat yang ekstrem.
Era Low-Rise: Provokasi Pop Culture
Sementara itu, celana low-rise (pinggang rendah) mencapai puncaknya pada akhir 90-an dan awal 2000-an. Desainer Alexander McQueen sering dianggap sebagai pemicunya melalui koleksi “Bumster” pada tahun 1993, yang mengekspos bagian tulang belakang paling bawah. Tren ini kemudian diambil alih oleh ikon pop seperti Britney Spears, Christina Aguilera, dan Paris Hilton. Celana ini menjadi simbol seksualitas, kepercayaan diri, dan keberanian untuk memamerkan perut.
2. Mengapa Kembali Sekarang? Fenomena Nostalgia Y2K
Mengapa anak muda di tahun 2026 begitu terobsesi dengan gaya orang tua mereka di tahun 2000-an?
Faktor Media Sosial (TikTok & Instagram)
Algoritma media sosial memainkan peran besar. Estetika Y2K sangat “fotogenik”. Warna-warna cerah, potongan yang tidak biasa, dan siluet yang mencolok membuat konten fashion lebih menarik di layar ponsel. Tagar #Y2KFashion telah mencapai miliaran tayangan, menciptakan efek bola salju di mana permintaan pasar meningkat tajam.
Penolakan Terhadap “Perfect Body” Skinny Jeans
Selama bertahun-tahun, skinny jeans mendominasi dengan tuntutan bentuk tubuh yang sangat spesifik. Baggy jeans menawarkan alternatif yang lebih inklusif. Dengan potongan yang lebar, fokus beralih dari bentuk kaki ke siluet pakaian itu sendiri. Ini adalah bentuk body positivity di mana kenyamanan menjadi prioritas utama.
3. Psikologi di Balik Pilihan Celana
Warna dan potongan pakaian memengaruhi cara kita merasa.
-
Baggy Jeans: Memberikan perasaan “aman” dan santai. Ruang ekstra di antara kulit dan kain memberikan kebebasan psikologis dari kekakuan aturan formal.
-
Low-Rise Pants: Berkaitan dengan keberanian. Memakai celana pinggang rendah di era sekarang seringkali dianggap sebagai tindakan “berisiko” fashion, yang justru meningkatkan rasa percaya diri bagi pemakainya yang ingin tampil beda.
4. Dampak Industri: Dari Fast Fashion hingga Thrifting
Kebangkitan tren ini mengubah lanskap ekonomi fashion.
Lonjakan Thrifting (Barang Bekas)
Karena orang-orang mencari tampilan yang autentik dari era 90-an, pasar baju bekas atau thrifting meledak. Aplikasi seperti Depop dan Vinted dipenuhi oleh pencarian “Vintage Levi’s Baggy” atau “Y2K Low Rise Denim”. Ini mendukung gerakan keberlanjutan (sustainability) karena mengurangi produksi denim baru yang dikenal boros air.
Adaptasi High-End Brand
Rumah mode ternama seperti Balenciaga, Diesel, dan Miu Miu telah merilis koleksi yang secara terang-terangan memberikan penghormatan pada siluet longgar dan pinggang rendah. Hal ini membuktikan bahwa tren ini bukan sekadar tren sesaat di jalanan, melainkan sudah masuk ke ranah seni tingkat tinggi.
5. Cara Memakai (Styling Guide) di Era Modern
Meskipun ini adalah gaya lama, cara memakainya di tahun 2026 sedikit berbeda untuk menghindari kesan “kostum”.
Proporsi adalah Kunci
Jika Anda memakai baggy jeans yang sangat lebar, padukan dengan atasan yang lebih pas di badan (fitted top atau crop top) untuk menciptakan keseimbangan visual. Sebaliknya, celana low-rise sering dipadukan dengan baby tees atau jaket oversized untuk tampilan effortless.
Aksesori Penunjang
Jangan lupakan ikat pinggang besar dengan gesper mencolok atau rantai celana untuk memperkuat kesan retro-modern. Sepatu chunky sneakers atau platform boots sangat cocok untuk menopang panjang celana baggy agar tidak menyapu lantai terlalu banyak.
6. Kritik dan Kontroversi: Isu Inklusivitas Tubuh
Kembalinya low-rise tidak lepas dari kritik. Di masa lalu, tren ini sering dikaitkan dengan standar tubuh yang sangat kurus (heroin chic). Namun, di era sekarang, komunitas fashion berusaha merebut kembali gaya ini untuk semua bentuk tubuh. Tantangannya adalah memastikan bahwa merek-merek fashion memproduksi ukuran yang beragam, bukan hanya untuk mereka yang bertubuh model.
Kesimpulan: Kebebasan Bereskpresi
Kembalinya baggy jeans dan low-rise pants adalah bukti bahwa fashion adalah tentang kebebasan. Kita tidak lagi terikat pada satu standar “celana yang benar”. Apakah Anda memilih kenyamanan maksimal dari denim longgar atau keberanian dari potongan pinggang rendah, pesan utamanya adalah sama: Ekspresikan dirimu tanpa batas.
Tren ini mungkin akan berganti lagi dalam lima tahun ke depan, namun pelajaran tentang bagaimana kita menghargai sejarah dan kenyamanan akan tetap bertahan. Denim, bagaimanapun bentuknya, akan selalu menjadi kanvas bagi identitas kita.

