Gorpcore 2.0 (Urban Nomad): Evolusi dari gaya outdoor ke arah “Technical Luxury”. Pakaian yang fungsional untuk mendaki (seperti jaket XXL puffer berbahan matte) namun memiliki potongan yang cukup mewah untuk dipakai ke kantor.

Gorpcore 2.0: Evolusi Urban Nomad dan Masa Depan “Technical Luxury” di Korea Selatan
Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 01/02/2026
Di jalanan distrik Seongsu-dong yang padat atau di antara gedung pencakar langit Gangnam pada tahun 2026, pemandangan visual telah berubah drastis. Anda tidak lagi hanya melihat setelan jas kaku atau streetwear grafis yang mencolok. Sebagai gantinya, Anda akan melihat para profesional muda mengenakan jaket XXL puffer berbahan matte yang tahan badai, dipadukan dengan celana panjang berpola teknis dan sepatu bot pendakian yang ramping.
Selamat datang di era Gorpcore 2.0, sebuah tren yang lebih dikenal sebagai Urban Nomad. Ini bukan sekadar pakaian; ini adalah respons estetika terhadap dunia yang semakin tidak terprediksi, di mana fungsi bertemu dengan kemewahan tingkat tinggi (Technical Luxury).
I. Apa Itu Gorpcore? (Sebuah Kilas Balik)
Istilah “Gorp” berasal dari akronim “Good Old Raisins and Peanuts”, camilan khas para pendaki gunung. Gorpcore awalnya adalah tren mengenakan pakaian luar ruang (outdoor) untuk aktivitas sehari-hari. Merek seperti Arc’teryx, The North Face, dan Patagonia menjadi seragam baru bagi mereka yang tinggal di kota besar namun ingin terlihat siap untuk mendaki gunung sewaktu-waktu.
Namun, di Korea Selatan tahun 2026, Gorpcore telah bermutasi. Jika Gorpcore 1.0 adalah tentang “tampilan pendaki yang tersesat di kota”, maka Gorpcore 2.0 (Urban Nomad) adalah tentang “penghuni kota yang siap menaklukkan dunia dengan gaya yang sangat halus”.
II. Filosofi Urban Nomad: Mengapa Korea Selatan?
Korea Selatan memiliki obsesi yang unik terhadap aktivitas luar ruang. Di akhir pekan, gunung-gunung di sekitar Seoul dipenuhi oleh orang-orang dengan peralatan mendaki paling canggih. Obsesi ini, ditambah dengan kecepatan hidup yang tinggi (Pali-pali culture), menciptakan kebutuhan akan pakaian yang:
-
Versatil: Bisa dipakai mendaki di pagi hari dan rapat di sore hari.
-
Protektif: Melindungi dari polusi debu halus (fine dust) dan cuaca ekstrem.
-
Simbol Status: Menunjukkan bahwa pemakainya memiliki gaya hidup aktif namun cukup makmur untuk membeli material teknologi tinggi.
III. Karakteristik Utama Gorpcore 2.0
1. Materialitas: The “Matte & Silent” Revolution
Berbeda dengan jaket gunung tahun 2010-an yang berwarna neon mencolok dan berisik saat bergesekan, Gorpcore 2.0 menggunakan material Matte-finish Tech-fabrics. Kainnya tidak berkilau, terasa seperti kulit kedua, dan memiliki teknologi Silent-Shell yang tidak mengeluarkan suara saat bergerak. Ini memberikan kesan mewah yang tersembunyi (quiet luxury).
2. Siluet XXL Puffer dan Proporsi Eksperimental
Jaket puffer dalam tren ini tidak lagi terlihat seperti jaket olahraga biasa. Desainer Korea seperti Post Archive Faction (PAF) memotong jaket ini dengan sudut-sudut asimetris. Siluetnya raksasa (oversized), memberikan perlindungan fisik sekaligus pernyataan mode yang kuat. Ketika dipadukan dengan celana bahan teknis yang pas badan (tapered), ia menciptakan kontras proporsi yang sangat modern.
3. Palet Warna “Earthly Neutrals”
Warna-warna neon telah digantikan oleh palet warna bumi: abu-abu vulkanik, hijau lumut tua, cokelat pasir, dan hitam pekat. Warna-warna ini memungkinkan pakaian teknis masuk ke ruang-ruang formal seperti kantor atau restoran mewah tanpa terlihat aneh.
IV. Komponen Kunci Gaya Urban Nomad
| Item | Karakteristik Gorpcore 2.0 |
| Outerwear | Jaket Gore-Tex Pro dengan potongan blazer atau cropped puffer asimetris. |
| Tops | Base-layer dari wol merino yang mengatur suhu tubuh, namun dengan kerah tinggi (turtleneck) yang elegan. |
| Pants | Celana kargo dengan kantong tersembunyi (stealth pockets) dan bahan four-way stretch. |
| Footwear | Sepatu pendakian hasil kolaborasi brand outdoor (seperti Salomon) dengan rumah mode (seperti Maison Margiela). |
V. Dampak pada Budaya Kerja: “Technical Luxury” di Kantor
Salah satu pencapaian terbesar Gorpcore 2.0 di Korea adalah kemampuannya menembus budaya korporat yang konservatif. Kini, memakai jaket teknis berkualitas tinggi dianggap sebagai tanda kecanggihan teknologi dan kesadaran kesehatan.
CEO startup di Seoul sering terlihat menggunakan rompi teknis berbahan serat karbon di atas kemeja putih mereka. Ini adalah pesan tersirat bahwa mereka adalah individu yang dinamis, tangguh terhadap perubahan, dan siap bergerak cepat—karakteristik utama seorang “Urban Nomad”.
VI. Keberlanjutan dalam Gorpcore 2.0
Para pengikut tren ini di Korea sangat vokal mengenai lingkungan. Oleh karena itu, Gorpcore 2.0 tahun 2026 sangat bergantung pada:
-
Recycled Membranes: Membran tahan air yang dibuat dari plastik laut.
-
Dry-Dyeing Technology: Pewarnaan kain tanpa menggunakan air untuk mengurangi limbah kimia.
-
Repairability: Merek-merek seperti KOLON SPORT kini menawarkan layanan perbaikan seumur hidup, menekankan bahwa pakaian teknis adalah investasi jangka panjang, bukan fesyen cepat (fast fashion).
VII. Rekomendasi Brand untuk Gaya Urban Nomad
Jika Anda ingin mendalami gaya ini, perhatikan merek-merek berikut:
-
Post Archive Faction (PAF): Jenius dalam dekonstruksi pakaian luar ruang.
-
San San Gear: Menawarkan gaya Gorpcore yang lebih muda dan terjangkau namun tetap teknis.
-
Hyein Seo: Menggabungkan estetika cyberpunk dengan fungsi pakaian taktis.
-
Cayl (Climb As You Love): Brand lokal yang benar-benar berakar pada budaya mendaki gunung di Korea namun memiliki desain yang sangat bersih.
Kesimpulan
Gorpcore 2.0 atau Urban Nomad adalah bukti bahwa di tahun 2026, manusia perkotaan mendambakan kembali koneksi dengan alam tanpa kehilangan martabat modernitas mereka. Di Korea Selatan, gaya ini bukan lagi sekadar tren musiman, melainkan seragam bagi mereka yang memandang kota sebagai hutan beton yang harus ditaklukkan dengan kecanggihan dan ketangguhan.
Pakaian Anda kini adalah perisai Anda, rumah portabel Anda, dan pernyataan status Anda.

