Fashion Week Revolusi Etika di Atas Panggung Runway 2026

Fashion Week  Runway Jakarta 2026 Salah satu momen ikonik Mahalini tahun ini adalah penampilannya sebagai muse untuk desainer Lisa Ju. Gaya yang diusung bertajuk “Revolte”, yang menampilkan:

  • Mini Dress Korset: Gaun dengan siluet korset berwarna emas kecokelatan yang mempertegas lekuk tubuh, memberikan kesan powerful sekaligus feminin.

  • Long Coat Jubah: Penampilannya diperkuat dengan lapisan luar berupa long coat berbulu yang dramatis, memberikan sentuhan mewah dan grande.

  • Knee Boots: Untuk menyeimbangkan gaunnya, ia mengenakan sepatu boots setinggi lutut (knee boots) berbahan kulit cokelat yang memberikan aura fierce dan badass.

Fashion Week
Fashion Week

Jakarta Fashion Week 2026: Simfoni “Future-Retro” dan Revolusi Etika di Atas Panggung Runway

Oleh: MELEDAK77
Pada Tanggal: 19/01/2026

Tahun 2026 menandai sebuah era baru bagi Jakarta sebagai salah satu ibu kota mode yang diperhitungkan di kancah global. Jakarta Fashion Week (JFW) 2026 bukan lagi sekadar ajang pameran busana tahunan; ia telah bertransformasi menjadi sebuah pernyataan politik, teknologi, dan budaya. Digelar di pusat jantung kota yang kini semakin modern, JFW 2026 mengusung tema besar “Synthesis: The Future of Heritage”.

Selama tujuh hari penuh, para pecinta mode, kritikus, hingga selebriti papan atas menyaksikan bagaimana tradisi tekstil nusantara yang berusia ratusan tahun melebur secara organik dengan teknologi manufaktur masa depan.

1. Tren Utama: Kembalinya “Quiet Luxury” dengan Sentuhan Etnik

Jika tahun-tahun sebelumnya panggung runway didominasi oleh logo-logo besar dan warna-warna neon yang mencolok, JFW 2026 menunjukkan pergeseran ke arah Quiet Luxury (kemewahan yang tenang). Namun, versi Indonesia dari tren ini memiliki keunikan tersendiri.

Para desainer terkemuka seperti Sebastian Gunawan dan Lisa Ju mendefinisikan ulang kemewahan melalui kualitas material dan ketelitian jahitan, bukan lagi sekadar keramaian visual. Kita melihat dominasi warna-warna bumi (earth tones) seperti terracotta, sand, dan deep olive yang dipadukan dengan material sutra pintal tangan dan serat nanas.

Yang paling mencuri perhatian adalah bagaimana teknik Lurik dan Tenun Ikat diaplikasikan pada potongan busana yang sangat modern seperti oversized blazer, trench coat ringan, hingga structured mini dress. Ini adalah bukti bahwa kekayaan lokal Indonesia mampu bersaing dalam standar estetika global yang minimalis namun berkelas.


2. Momen Ikonik: Mahalini dan Revolusi “Muse” Selebriti

Salah satu puncak perhatian di JFW 2026 adalah saat penyanyi Mahalini melangkah di runway untuk koleksi terbaru bertajuk “Revolte”. Kehadiran Mahalini bukan sekadar sebagai pemanis, melainkan simbol dari “Wajah Indonesia Modern”.

Mengenakan gaun korset yang strukturnya terinspirasi dari arsitektur candi purba namun dibuat dengan teknik 3D printing metalik, Mahalini memukau penonton. Paduan long coat bervolume besar dan knee-high boots kulit memberikan kesan bahwa wanita Indonesia di tahun 2026 adalah sosok yang tangguh, berani, namun tetap menghargai akar budayanya. Momen ini menjadi viral secara global, membuktikan bahwa sinergi antara industri musik dan mode adalah kekuatan promosi yang luar biasa.


3. Teknologi dan Keberlanjutan (Sustainability)

JFW 2026 akan diingat sebagai tahun di mana “Sustainable Fashion” (mode berkelanjutan) bukan lagi sekadar slogan pemasaran, melainkan standar wajib. Panitia JFW menerapkan aturan ketat mengenai jejak karbon setiap koleksi yang tampil.

Bio-Fabrication: Busana dari Laboratorium

Beberapa desainer muda eksperimental memperkenalkan busana yang dibuat dari Bio-leather—kulit sintetis yang difermentasi dari limbah jamur dan kelapa. Teksturnya yang unik, menyerupai kulit domba namun sepenuhnya ramah lingkungan, menjadi primadona baru. Koleksi-koleksi ini menunjukkan bahwa di masa depan, kita tidak perlu mengorbankan alam demi gaya.

Digital Twin dan Metaverse Integration

Uniknya, setiap tamu yang hadir di lokasi fisik diberikan akses ke “Digital Twin” dari koleksi yang mereka lihat. Menggunakan teknologi AR (Augmented Reality), penonton bisa langsung mencoba versi digital busana tersebut melalui gawai mereka dan melakukan pemesanan custom-fit yang akan diproduksi hanya berdasarkan permintaan (made-to-order), guna mengurangi limbah stok pakaian berlebih.


4. Sorotan Desainer: Dari Maestro Hingga Pendatang Baru

Lisa Ju: Sang Arsitek Gaun

Koleksi Lisa Ju di tahun 2026 menonjolkan detail hand-embroidery yang sangat rumit. Ia membawa visi tentang “Modern Royalty”, di mana setiap helai pakaian terasa seperti karya seni yang layak dipajang di museum. Penggunaan payet dari bahan daur ulang kaca memberikan kilau yang belum pernah terlihat sebelumnya di panggung runway.

Oscar Lawalata Culture: Menjaga Tradisi

Oscar Lawalata tetap setia pada misinya mengangkat pengrajin lokal. Di tahun 2026, ia menghadirkan koleksi batik dengan pola mikroskopis yang hanya bisa dilihat keindahannya dari jarak dekat. Ini adalah penghormatan terhadap kesabaran dan ketelitian manusia di tengah dunia yang serba instan.

Gen-Z Designers: Streetwear Futuristik

Para desainer muda jebolan sekolah mode lokal membawa napas segar dengan gaya Streetwear futuristik. Mereka menggunakan material fungsional seperti kain anti-air, anti-radiasi, dan saku-saku modular yang sangat cocok untuk mobilitas tinggi masyarakat Jakarta di tahun 2026.


5. Pesan Sosial: Inklusivitas dan Keberagaman

Panggung JFW 2026 juga merayakan keberagaman manusia. Tidak ada lagi standar tunggal untuk kecantikan. Runway kali ini diisi oleh model-model dari berbagai latar belakang etnis, bentuk tubuh, hingga model senior dan penyandang disabilitas yang mengenakan busana adaptive fashion.

Mode di tahun 2026 adalah tentang pemberdayaan. Busana tidak lagi dirancang untuk “mengoreksi” tubuh manusia agar sesuai dengan standar industri, melainkan untuk merayakan keunikan setiap individu. Jaket-jaket dengan kancing magnetik atau sepatu dengan sistem pengunci otomatis menjadi bukti bahwa desain yang baik adalah desain yang bisa dinikmati oleh semua orang.


6. Dampak Ekonomi: Jakarta Sebagai Hub Fashion Asia

Keberhasilan JFW 2026 memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Banyaknya pembeli (buyers) internasional dari Paris, Milan, dan Tokyo yang hadir menunjukkan bahwa ekspor kreatif Indonesia tengah berada di puncaknya. Dukungan pemerintah melalui infrastruktur logistik yang lebih cepat di tahun 2026 memudahkan para desainer lokal untuk mengirimkan karya mereka ke seluruh dunia dalam hitungan hari.

Industri UMKM tekstil di daerah juga ikut terangkat. Permintaan akan kain tenun dan batik berkualitas tinggi meningkat tajam pasca pameran, memberikan kehidupan baru bagi desa-desa pengrajin di seluruh Nusantara.


Kesimpulan: Warisan untuk Masa Depan

Jakarta Fashion Week 2026 telah berhasil membuktikan bahwa masa depan mode tidak harus selalu tentang meninggalkan masa lalu. Justru, kekuatan terbesar Indonesia terletak pada kemampuannya untuk menoleh ke belakang guna melangkah jauh ke depan.

Sinergi antara Mahalini sebagai muse, teknologi hijau, dan kreativitas tanpa batas para desainer lokal telah menciptakan sebuah standar baru. JFW 2026 bukan sekadar pekan mode; ia adalah cermin dari kebangkitan identitas bangsa yang modern, inklusif, dan penuh kesadaran akan keberlanjutan lingkungan.

Bagi kita yang menyaksikan, pesan dari runway tahun ini sangat jelas: Berbusanalah dengan cerita, berbusanalah dengan etika, karena apa yang kita kenakan adalah representasi dari dunia yang ingin kita bangun.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top