Pasha vokalis band Ungu tren mode 2026

Pasha vokalis band Ungu, telah menjadi salah satu tren mode yang sangat berpengaruh di Indonesia, terutama pada pertengahan 2000-an. Sebagai sosok frontman, Pasha dikenal memiliki gaya yang adaptif, mulai dari gaya rockstar yang berontak hingga penampilan yang lebih rapi dan elegan.

Pasha vokalis band Ungu tren mode 2026
Pasha vokalis band Ungu tren mode 2026

Revolusi Estetika Pasha Ungu: Transformasi Gaya Sang Ikon Metroseksual Indonesia

Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 05/02/2026

Dalam sejarah musik Indonesia, sangat sedikit vokalis yang mampu menyamai pengaruh visual Sigit Purnomo Syamsuddin Said, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Pasha. Sebagai vokalis utama band Ungu, Pasha tidak hanya memberikan nyawa pada lagu-lagu hits seperti Demi Waktu atau Tercipta Untukku, tetapi juga menciptakan standar baru dalam berpakaian bagi pria Indonesia.

Artikel ini akan membedah bagaimana evolusi gaya Pasha mencerminkan pergeseran budaya, dari era rockstar yang penuh pemberontakan hingga menjadi sosok pejabat publik yang elegan, serta bagaimana pengaruhnya tetap terasa hingga hari ini.


1. Dekonstruksi Gaya Rockstar: Kelahiran Era Metroseksual

Sebelum pertengahan 2000-an, citra vokalis band rock atau pop-rock di Indonesia cenderung identik dengan penampilan yang “urakan”—rambut gondrong tak teratur, kaos lusuh, dan celana jeans robek. Namun, Pasha hadir dengan membawa napas baru yang kemudian disebut oleh para kritikus mode sebagai era Metroseksual.

Kebersihan dan Kerapian

Pasha adalah salah satu pionir yang membuktikan bahwa seorang anak band bisa tampil sangat rapi, bersih, dan harum di atas panggung tanpa kehilangan maskulinitasnya. Ia sering tampil dengan wajah yang clean-shaved (atau kumis tipis yang tertata) dan kulit yang terawat. Hal ini menjadi standar baru: pria tidak lagi malu untuk memperhatikan penampilan fisik mereka secara mendetail.

Pengaruh Gaya Rambut “Shaggy”

Jika kita menilik kembali ke tahun 2005-2007, potongan rambut Pasha adalah model yang paling sering diminta di setiap salon atau pangkas rambut di pelosok Indonesia. Potongan shaggy berlapis yang menutupi telinga namun tetap memperlihatkan dahi menjadi identitas visualnya. Gaya rambut ini memberikan kesan artistik sekaligus modern, yang kemudian menjadi tren massal di kalangan remaja hingga dewasa muda.


2. Era Kejayaan “Melayang”: Eksperimen Jaket Kulit dan Rompi

Puncak pengaruh fashion Pasha terjadi pada era album Melayang (2005). Pada masa ini, Ungu berada di puncak popularitas, dan setiap penampilan Pasha di televisi menjadi referensi mode.

Rompi (Vest) di Atas Kemeja

Salah satu gaya paling ikonik dari Pasha adalah penggunaan rompi (vest) gelap yang dipadukan dengan kemeja putih atau hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Gaya ini menciptakan kesan semi-formal namun tetap santai. Penggunaan rompi ini memberikan struktur pada tubuh dan menonjolkan postur atletis sang vokalis.

Jaket Kulit Slim-Fit

Pasha jarang menggunakan jaket kulit yang berukuran besar atau gombrang seperti rocker tahun 80-an. Ia lebih memilih potongan slim-fit yang mengikuti bentuk tubuh. Warna-warna yang dipilih biasanya monokromatik—hitam atau cokelat tua—yang memberikan kesan premium. Gaya ini kemudian banyak diadopsi oleh pria urban yang ingin tampil tangguh namun tetap modis.


3. Fashion Sebagai Medium Religi: Normalisasi Baju Koko Modern

Salah satu kontribusi terbesar Pasha dalam dunia fashion Indonesia adalah melalui album-album religi Ungu seperti SurgaMu. Sebelum era ini, baju koko atau pakaian muslim pria sering dianggap sebagai pakaian “orang tua” atau hanya digunakan untuk beribadah di masjid.

Baju Koko Modern dan Stylish

Pasha mengubah persepsi tersebut dengan mengenakan baju koko yang memiliki potongan kemeja modern. Dengan kerah Shanghai yang rendah, bordir minimalis, dan material yang terlihat jatuh di badan, Pasha membuat baju religi menjadi sesuatu yang “keren” untuk dipakai sehari-hari atau bahkan di atas panggung.

Ia sering memadukan baju koko tersebut dengan celana jeans gelap dan sepatu kulit, menciptakan gaya “Smart-Casual-Religius” yang hingga kini masih menjadi pakem berpakaian pria Indonesia saat hari raya atau acara keagamaan.


4. Aksesori: Detail yang Mengukuhkan Identitas

Pasha sangat memahami kekuatan detail. Ia jarang tampil “polos” tanpa aksesori. Elemen-elemen kecil inilah yang membuat penampilannya terlihat dipikirkan dengan matang (well-thought).

  • Kacamata Hitam (Sunglasses): Baik itu model Aviator maupun Wayfarer, kacamata hitam adalah senjata utama Pasha untuk menciptakan aura misterius sekaligus glamor.

  • Kalung Dog-Tag dan Gelang Kulit: Untuk menyeimbangkan kerapian pakaiannya, ia sering menambahkan aksesori maskulin seperti kalung rantai perak atau gelang kulit bertumpuk. Ini memberikan sentuhan “bad boy” yang terkontrol.

  • Sabuk dengan Kepala Besar (Buckle): Di beberapa kesempatan panggung, sabuk dengan kepala yang menonjol menjadi titik fokus dari gaya berpakaiannya yang simpel.


5. Masa Transisi: Gaya Formal-Eksklusif

Memasuki tahun 2010-an, seiring dengan bertambahnya usia dan peran baru sebagai politisi (Wakil Wali Kota Palu), gaya Pasha mengalami evolusi menuju Formal-Eksklusif. Namun, ia tidak meninggalkan sisi modisnya.

Setelan Jas Custom-Made

Sebagai pejabat, jas menjadi pakaian wajib. Pasha memilih setelan jas dengan potongan Italian-cut yang pas di bahu dan pinggang. Ia sering bermain dengan warna jas yang berani, tidak hanya hitam, tetapi juga biru navy atau abu-abu muda, yang dipadukan dengan dasi yang kontras.

Potongan Rambut Undercut dan Man Bun

Bahkan saat menjadi pejabat, Pasha sempat menghebohkan publik dengan gaya rambutnya. Dari potongan undercut yang sangat rapi hingga gaya kuncir atas (man bun) saat ia masih aktif di pemerintahan. Hal ini menunjukkan bahwa jiwa senimannya tidak pernah hilang; ia tetap ingin bereksperimen dengan penampilannya meskipun berada di lingkungan birokrasi yang kaku.


6. Filosofi di Balik Gaya: Kepercayaan Diri dan Adaptabilitas

Mengapa gaya Pasha begitu berhasil memengaruhi banyak orang? Jawabannya terletak pada kepercayaan diri. Pasha memiliki kemampuan untuk “membawa” pakaian apa pun seolah-olah pakaian itu adalah bagian dari kulitnya sendiri.

Ia mampu bertransformasi dari seorang pria yang menangis di video klip dengan kemeja flanel, menjadi pria yang sangat maskulin di panggung konser dengan jaket kulit, hingga menjadi pria yang sangat bersahaja dengan baju koko. Kemampuan adaptasi inilah yang membuat fashion-nya selalu relevan dengan konteks zamannya.


7. Pengaruh Terhadap Brand Lokal dan Industri Konveksi

Dampak dari gaya Pasha tidak hanya berhenti pada tren di salon, tetapi juga menggerakkan ekonomi. Di era 2000-an, banyak pusat grosir pakaian seperti Tanah Abang atau pasar-pasar di daerah yang menjual “Baju Koko Pasha” atau “Jaket Pasha”. Nama besarnya menjadi jaminan bahwa produk tersebut akan laku di pasaran. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya kekuatan influencer (bahkan sebelum istilah itu ada) dalam menggerakkan ekonomi kreatif.


Kesimpulan: Warisan Gaya yang Abadi

Pasha Ungu telah membuktikan bahwa fashion bagi seorang musisi bukan sekadar tentang pakaian, melainkan tentang cara berkomunikasi dengan penggemar. Melalui pilihan busananya, ia menyampaikan pesan tentang modernitas, religiusitas, dan profesionalisme.

Bagi generasi yang tumbuh di tahun 2000-an, Pasha adalah kiblat bagaimana seharusnya seorang pria merawat diri dan tampil menarik. Meskipun kini gaya berpakaian pria telah bergeser ke arah streetwear atau oversized, elemen-elemen dasar yang dibawa Pasha—seperti pentingnya kerapian, potongan yang pas di badan (fit), dan keberanian bereksperimen dengan rambut—tetap menjadi fondasi bagi fashion pria modern di Indonesia.

Pasha tetaplah sang “Frontman” sejati, baik dalam hal nada suara maupun dalam urusan gaya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top