Ronin Modern: Zoro identik dengan gaya tradisional Jepang yang maskulin. Ia sering mengenakan haramaki (sabuk perut tradisional) dan kimono. Namun, di dunia luar, ia sering memakai kemeja terbuka yang memberikan kesan tough guy.

Ronin Modern: Membedah Estetika Maskulinitas dan Tradisi dalam Busana Roronoa Zoro
Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 17/02/2026
Dalam lanskap One Piece yang penuh dengan karakter eksentrik berbusana warna-warni, Roronoa Zoro berdiri sebagai pilar ketegasan visual. Sejak kemunculan pertamanya di Shells Town, Zoro telah memantapkan dirinya sebagai ikon maskulinitas yang bersahaja. Gaya busananya adalah perpaduan unik antara fungsionalitas tempur, penghormatan terhadap tradisi Jepang, dan sikap “tough guy” yang tidak peduli pada tren, namun justru menciptakan tren itu sendiri.
1. Akar Tradisional: Haramaki dan Identitas Samurai
Komponen paling ikonik dan tak tergantikan dari busana Zoro adalah Haramaki. Secara historis, haramaki adalah korset atau sabuk perut tradisional Jepang yang awalnya digunakan sebagai bagian dari zirah samurai untuk melindungi bagian tengah tubuh.
Filosofi Haramaki
Bagi Zoro, haramaki bukan sekadar aksesoris. Dalam budaya Jepang, perut (hara) dianggap sebagai pusat dari jiwa dan kekuatan seseorang (konsep hara-kiri atau seppuku berakar dari sini). Dengan mengenakan haramaki hijau zamrudnya, Zoro secara simbolis menjaga “pusat kekuatannya”. Secara fungsional, haramaki ini juga menjadi tempat ia menyandarkan ketiga pedang legendarisnya. Ini adalah bentuk efisiensi: senjata yang mematikan harus selalu dekat dengan pusat gravitasi tubuh.
Hijau Zamrud: Warna Ketenangan dan Kekuatan
Warna hijau yang selalu melekat pada Zoro—dari rambut hingga pakaiannya—bukanlah pilihan tanpa alasan. Hijau dalam estetika Zoro melambangkan lumut (Marimo), sesuatu yang tumbuh perlahan namun pasti, kuat, dan menyatu dengan alam. Ini kontras dengan warna merah Luffy yang meledak-ledak. Hijau Zoro adalah hijau hutan yang dalam; tenang namun menyimpan bahaya.
2. Evolusi Busana: Dari Pemburu Bajak Laut ke Pendekar Dunia
Gaya Zoro mengalami transformasi yang menarik seiring dengan kedewasaannya sebagai petarung.
Era East Blue hingga Enies Lobby
Pada awal cerita, Zoro tampil dengan gaya yang sangat “jalanan”. Kemeja putih polos dengan kancing terbuka di dada, celana panjang hitam, dan sepatu bot. Ini adalah gaya “Tough Guy” klasik. Ia terlihat seperti seorang petarung bar yang siap berkelahi kapan saja. Kesederhanaan ini menunjukkan bahwa saat itu Zoro tidak memiliki apa-apa selain tekadnya. Ia adalah seorang minimalis; ia tidak butuh perhiasan, ia hanya butuh pedang yang tajam.
Pasca-Timeskip: Transformasi menjadi Master
Setelah berlatih selama dua tahun di bawah bimbingan Mihawk, penampilan Zoro berubah drastis menjadi lebih tradisional. Ia mulai mengenakan jubah panjang berwarna hijau tua (long coat atau kimono robe) yang terbuka di bagian depan.
-
Kesan Kedewasaan: Jubah ini memberikan siluet yang lebih besar dan mengancam. Ia tidak lagi terlihat seperti anak muda yang jago berkelahi, melainkan seorang Grandmaster yang telah melewati neraka.
-
Luka di Mata: Luka vertikal di mata kirinya menjadi “aksesoris” paling bicara. Dalam dunia fashion karakter, luka adalah simbol pengalaman. Dipadukan dengan busana tradisional, luka ini memperkuat citra Zoro sebagai veteran perang.
3. Ronin di Dunia Modern: Kemeja Terbuka dan Estetika Kasual
Salah satu daya tarik terbesar Zoro adalah kemampuannya terlihat keren dalam pakaian kasual tanpa kehilangan aura pendekarnya. Dalam berbagai color spread atau episode spesial, Oda sering menggambarkan Zoro dalam balutan fashion modern.
Kemeja Pantai dan Gaya Urban
Zoro sering digambarkan mengenakan kemeja bermotif (seringkali motif tropis atau geometris) yang dibiarkan terbuka. Gaya ini sering disebut sebagai “Ruffian Style”. Ini adalah perpaduan antara gaya yakuza Jepang yang santai dengan gaya streetwear modern.
-
Simbol Kebebasan: Kemeja yang terbuka menunjukkan bahwa ia tidak terikat oleh aturan formalitas mana pun. Ia adalah bajak laut, seorang kriminal di mata hukum, dan pakaiannya mencerminkan penolakan terhadap struktur sosial yang kaku.
-
Kontras Maskulin: Meskipun memakai kemeja santai, kehadiran pedang di pinggangnya menciptakan kontras visual yang kuat. Ia adalah pengingat bahwa di balik pakaian santai itu, ada mesin pembunuh yang sangat disiplin.
4. Wano Kuni: Puncak Estetika Zoro
Arc Wano adalah momen di mana fashion Zoro mencapai bentuk finalnya. Di sini, ia benar-benar menjadi seorang samurai Jepang sejati secara visual.
Zorojuro dan Jubah Yukata
Mengenakan yukata dengan motif awan dan jubah haori, Zoro menyatu dengan latar belakang Wano yang bergaya zaman Edo. Namun, Oda memberikan sentuhan personal: skema warna hijau tetap dominan. Di sini kita melihat bagaimana busana tradisional bisa terlihat sangat agresif jika dikenakan oleh orang yang tepat. Gerakan kain jubah Zoro saat ia mengeluarkan teknik Santoryu menambah estetika sinematik yang tidak bisa didapatkan dari pakaian kasual.
5. Mengapa Fashion Zoro Mempengaruhi Budaya Pop?
Gaya Zoro telah menginspirasi banyak desainer streetwear di dunia nyata. Konsep memadukan unsur tradisional (seperti sabuk lebar atau jubah panjang) dengan elemen modern (seperti sepatu bot militer atau kemeja kasual) kini menjadi tren di kalangan pecinta anime fashion.
-
Minimalisme Maskulin: Zoro mengajarkan bahwa maskulinitas tidak butuh banyak hiasan. Cukup satu atau dua warna dominan, satu elemen ikonik (seperti haramaki), dan sikap yang tenang.
-
Fungsi Di Atas Estetika: Segala sesuatu yang dipakai Zoro memiliki fungsi. Celananya longgar agar ia bisa bergerak lincah, sepatunya kuat untuk menahan beban tubuh saat menebas, dan ikat kepalanya (bandana) adalah sinyal bahwa ia akan bertarung serius.
Kesimpulan
Roronoa Zoro adalah bukti bahwa fashion dalam anime bisa memiliki kedalaman narasi yang luar biasa. Melalui haramaki, kemeja terbuka, dan jubah hijaunya, kita melihat perjalanan seorang pria yang menghormati masa lalu namun tidak takut menghadapi masa depan yang liar. Ia adalah Ronin Modern yang abadi—seorang pendekar yang tidak butuh peta untuk tahu bahwa gaya sejatinya ada pada keteguhan hatinya.

