Preppy-Go-Lucky (Nerdy Aesthetic): Gaya anak sekolah elit Amerika (blazer, rok plisket, rompi rajut) kini dipadukan dengan kacamata besar dan sepatu loafers tebal, memberikan kesan “pintar itu keren”.

Kebangkitan Preppy-Go-Lucky: Saat Estetika “Kutu Buku” Menjadi Standar Baru Kerennya Anak Muda Global
Oleh: MELEDAK77
Pada Tanggal: 22/01/2026
Dahulu, sebutan “nerd” atau kutu buku sering kali diasosiasikan dengan pengasingan sosial, kacamata tebal yang canggung, dan pakaian yang dianggap membosankan. Namun, pada tahun 2026, narasi tersebut telah berputar 180 derajat. Selamat datang di era Preppy-Go-Lucky, sebuah tren fashion yang mengambil elemen klasik dari sekolah elit Amerika (Ivy League) dan mencampurnya dengan sentuhan eksentrik yang ceria. Di era ini, “pintar adalah seksi” bukan sekadar slogan, melainkan gaya hidup yang diterjemahkan melalui jahitan blazer dan rajutan rompi.
1. Akar Sejarah: Dari Ivy League ke Streetwear
Gaya Preppy sebenarnya bukan hal baru. Ia berakar dari budaya universitas-universitas papan atas di Amerika Serikat (seperti Harvard, Yale, dan Princeton) pada awal hingga pertengahan abad ke-20. Awalnya, gaya ini adalah simbol kelas sosial—menandakan bahwa pemakainya memiliki akses ke pendidikan mahal dan olahraga eksklusif seperti polo atau rowing.
Pada era 80-an, merek seperti Ralph Lauren dan Tommy Hilfiger mempopulerkan gaya ini ke masyarakat luas. Namun, apa yang membuat Preppy-Go-Lucky di tahun 2026 berbeda? Perbedaannya terletak pada kata “Go-Lucky”. Jika dulu gaya preppy sangat kaku dan eksklusif, kini ia lebih inklusif, eksperimental, dan penuh warna. Ia melepaskan kesan “angkuh” dan menggantinya dengan kesan “pintar yang menyenangkan”.
2. Anatomi Gaya Preppy-Go-Lucky
Untuk memahami mengapa tren ini begitu digemari, kita harus melihat elemen-elemen kunci yang membentuknya:
A. Blazer Oversize dengan Patch Kustom
Bukan lagi blazer yang pas di badan seperti agen asuransi, melainkan blazer dengan potongan bahu yang lebar dan longgar. Keunikannya terletak pada penggunaan patch atau bordiran yang tidak lagi hanya lambang universitas fiktif, melainkan simbol-simbol hobi pribadi, seperti logo klub buku, ikon teknologi, atau seni abstrak.
B. Rompi Rajut (Sweater Vest) dan Kemeja Oxford
Ini adalah jantung dari estetika nerdy. Rompi rajut dengan motif argyle (belah ketupat) atau warna-warna solid yang cerah dipakai di atas kemeja putih bersih. Cara pakainya pun sengaja dibuat sedikit berantakan—kerah yang tidak simetris atau ujung kemeja yang sedikit keluar—untuk memberikan kesan “aku terlalu sibuk membaca buku sehingga tidak sempat bercermin lama-lama”.
C. Rok Plisket dan Celana Chino Pendek
Bagi wanita, rok plisket ala seragam sekolah tetap menjadi andalan, namun dipadukan dengan kaus kaki tinggi sebetis. Bagi pria (atau gaya unisex), celana chino pendek dengan potongan rapi menjadi pilihan untuk memberikan kesan santai namun terpelajar.
D. Aksesori Ikonik: Kacamata Besar dan Loafers Tebal
Kacamata berbingkai tebal (sering disebut kacamata geek) kini menjadi aksesori fashion paling dicari, bahkan bagi mereka yang memiliki penglihatan normal. Untuk alas kaki, sepatu Loafers dengan sol tebal (chunky soles) menggantikan sneaker. Sepatu ini memberikan kesan berat dan berwibawa, namun tetap modern.
3. Mengapa Tren Ini Meledak di Tahun 2026?
Ada beberapa faktor sosiologis yang mendorong popularitas Preppy-Go-Lucky:
-
Revolusi Intelektual: Di tengah banjir informasi yang dangkal, kecerdasan dan kedalaman ilmu pengetahuan menjadi nilai jual baru. Mengenakan pakaian yang memberikan kesan “terpelajar” adalah cara anak muda menunjukkan bahwa mereka peduli pada substansi.
-
Katarsis Pasca-Streetwear: Setelah hampir satu dekade didominasi oleh gaya hoodie dan celana training (athleisure), orang-orang mulai merindukan struktur. Preppy-Go-Lucky memberikan struktur (kerah, kancing, jahitan) namun tetap menjaga kenyamanan.
-
Pengaruh Media Digital: Estetika ini sangat “kamera-sentris”. Warna-warna kontras dan tekstur kain yang beragam membuatnya tampak sangat estetik di konten video singkat.
4. Tabel: Perbandingan Gaya Preppy Dulu vs. Sekarang
| Elemen | Preppy Klasik (1980-an) | Preppy-Go-Lucky (2026) |
| Kesan Utama | Eksklusif, konservatif, rapi. | Inklusif, ekspresif, cerdas. |
| Warna | Navy, putih, merah tua. | Hijau botol, kuning mustard, warna pastel. |
| Kacamata | Seringkali dianggap kekurangan. | Aksesori utama yang membanggakan. |
| Sepatu | Boat shoes tipis. | Chunky Loafers (sol tebal). |
| Filosofi | Menunjukkan kekayaan keluarga. | Menunjukkan kekayaan intelektual. |
5. Dampak Psikologis: Berpakaian untuk Berpikir
Ada istilah dalam psikologi fashion yang disebut Enclothed Cognition. Teori ini menyatakan bahwa pakaian yang kita kenakan memengaruhi proses kognitif kita. Saat seseorang mengenakan gaya Preppy-Go-Lucky, mereka cenderung merasa lebih fokus, disiplin, dan percaya diri dalam situasi profesional atau akademis. Gaya ini bukan hanya tentang bagaimana orang lain melihat kita, tapi bagaimana kita melihat kapasitas diri kita sendiri.
6. Cara Memulai Gaya Preppy-Go-Lucky
Tidak perlu sekolah di luar negeri untuk mengikuti tren ini. Kamu bisa mulai dengan:
-
Mencari blazer bekas di thrifting store dan menambahkan pin unik.
-
Memasangkan kemeja berkancing dengan rompi rajut warna cerah.
-
Menggunakan sepatu Loafers dengan kaus kaki putih polos yang terlihat jelas.
-
Dan yang paling penting: jangan lupa membawa buku fisik sebagai aksesori terbaikmu!
Kesimpulan: Pintar Itu Keren
Preppy-Go-Lucky adalah bukti bahwa fashion selalu berputar dan beradaptasi dengan nilai-nilai zaman. Di tahun 2026, menjadi “nerd” bukan lagi tentang dikucilkan di perpustakaan, melainkan tentang memimpin percakapan di ruang kreatif dengan gaya yang tak terbantahkan. Tren ini merayakan kecerdasan tanpa menghilangkan kegembiraan, membuktikan bahwa kita bisa terlihat sangat cerdas sekaligus sangat modis di saat yang bersamaan.

